Tampilkan postingan dengan label Hadiah PTAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadiah PTAT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2009

Tugas PTAT juga nech...

TUGAS KELOMPOK

Mobilitas Herbisida Paraquat melalui Kolom Tanah Inceptisol (Dystrandept dan Dystrudept)

OLEH :

NOOR ALFISYAH & DYAH PUSPITASARI

PENDAHULUAN

Perilaku herbisida dalam tanah sangat ditentukan oleh berbagai faktor termasuk proses yang terjadi di dalam tanah dan karakteristik herbisida. Beberapa hal yang mempengaruhi perilaku herbisida yang diaplikasikan diantaranya adalah proses penguapan, metode aplikasi, formulasi herbisida, jenis tanah dan tanaman, kelarutan herbisida, adsorpsi oleh tanah dan tanaman, persistensi dan kondisi iklim (Waldron, 2003). Pergerakan herbisida secara vertikal sangat berpengaruh terhadap potensi pencemaran air tanah serta efikasi dari herbisida tersebut. Secara umum, mobilitas herbisida berbanding terbalik dengan koefisien adsorpsinya dalam tanah (Liu et al., 1995). Proses penting yang mempengaruhi mobilitas herbisida adalah adsorpsi oleh koloid tanah. Herbisida dapat diadsorpsi sangat kuat (very strong), kuat (strong), sedang (moderate) dan lemah (weak) oleh koloid tanah (Zimdahl, 1993). Menurut Fushiwaki and Urano (2001) adsorbabilitas tanah dengan mineral monmorillonit lebih tinggi daripada allopan dan kaolinit. Serapan akan meningkat seiring meningkatnya kandungan bahan organik, liat, KTK, dan akan menurun seiring dengan meningkatnya pH dan temperatur. Menurut Zimdahl (1993) dan Waldron (2003) tanah yang tinggi kandungan bahan organik dan liatnya mengadsorpsi herbisida lebih besar daripada tanah berpasir sehingga dibutuhkan konsentrasi herbisida yang lebih tinggi untuk mendapatkan aktivitas herbisida yang sama. Paraquat (1,1’-dimetil-4,4’-bipiridin) merupakan bahan aktif beberapa jenis herbisida yang banyak digunakan di lahan pertanian.

Paraquat diklasifikasikan sebagai herbisida purna tumbuh golongan piridin (Gambar 1) yang bersifat kontak non selektif (Humburg et al., 1989). Gambar 1. Struktur molekul herbisida paraquat Paraquat diketahui sebagai senyawa yang sangat toksik. Keberadaannya di dalam tanah (20 ppm) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Azotobacter dan Rhizobium yang berperan dalam fiksasi nitrogen (Martani et al., 2001). Paraquat juga diketahui menghambat pertumbuhan bakteri

E. coli dan alga di dalam tanah (Moore, 1998). Menurut Wong (2000), paraquat pada konsentrasi >2 ppm dapat menghambat pertumbuhan dan fotosintesis alga. Sifat paraquat yang sangat mudah larut dalam air menjadikan paraquat sebagai senyawa yang berpotensi untuk tercuci oleh air hujan maupun air irigasi sehingga mencemari sistem perairan (surface and ground water) (Hartzler, 2002). Hasil penelitian Muktamar et al. (2003) menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi paraquat yang digunakan memacu peningkatan adsorpsi oleh bahan mineral Ultisol dan Entisol. Penelitian serupa dengan menggunakan bahan organik diketahui bahwa peningkatan konsentrasi bahan organik tanah mengakibatkan peningkatan adsorpsi paraquat yang signifikan, terutama (Muktamar et al., 2004). Adsorpsi paraquat juga cenderung meningkat dengan semakin kurangnya kelembaban tanah seperti dilaporkan oleh Muktamar et al. (2005a). Penelitian lain yang dilakukan oleh Muktamar et al. (2006) dan Muktamar et al. (2005b) menunjukkan bahwa kadar garam secara individual dapat memacu adsorpsi paraquat oleh tanah. Penggunaan kolom tanah untuk mempelajari mobilitas ion dan herbisida telah banyak dilakukan. Matocha and Hossner (1999) mempelajari gerakan herbisida pyrithiobac menggunakan kolom tanah tidak terusik. Liu et al. (1995) menggunakan metode yang sama untuk mempelajari dampak amonia terhadap pencucian atrazine. Penelitian mobilitas herbisida paraquat sangat penting untuk dilakukan mengingat semakin banyaknya herbisida berbahan aktif paraquat digunakan di bidang pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan mobilitas herbisida paraquat melalui kolom tanah Dystrandept dan Dystrudept dan menentukan adsorpsi herbisida paraquat oleh kedua tanah tersebut.

BAHAN DAN METODE

Persiapan Sampel Tanah dan Perlakuan

Sampel tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 macam Inceptisol yaitu Great Group Dystrandept yang berasal dari Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu, sedangkan Great Group yang lain adalah Dystrudept yang berasal dari Desa Batu Ampar, Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong. Sampel tanah diambil dari 4 titik pada kedalaman 0-25 cm, kemudian dikomposit. Sampel tanah kemudian dikeringanginkan, digerus, setelah itu diayak dengan ayakan berdiameter 2mm. Bahan aktif paraquat diperoleh dari produk komersiil dengan konsentrasi 276 g paraquat L-1 yang setara dengan 200 g ion paraquat L-1. Konsentrasi paraquat untuk keperluan percobaan dibuat dengan mengencer kan larutan tersebut. Pada penelitian ini digunakan 3 konsentrasi herbisida paraquat yaitu 100, 200, dan 300 ppm setara dengan 0,54, 1,08, dan 1,62 mmol L-1 . Masing-masing perlakuan diulang 2 kali. Kolom tanah disiapkan dengan menggunakan pipa PVC dengan diameter 1,5 cm sepanjang 20 cm. Pipa tersebut dijepit pada tiang penyangga. Pada bagian atas penyangga disiapkan corong untuk mengalirkan herbisida pada kolom PVC, sedangkan di bagian bawah dapat diletakkan erlenmeyer untuk menampung filtrat.

Percobaan Kolom Tanah

Mobiltas herbisida paraquat dilakukan dengan menggunakan metode kolom. Dua puluh lima g tanah yang telah disiapkan dimasukkan kedalam pipa PVC, kemudian tanah dalam pipa dipadatkan dengan menggunakan tumbukan yang besarnya disesuaikan dengan ukuran pipa. Tanah dan pipa kemudian ditimbang. Pada bagian bawah pipa diberi kain kasa dan pasir sebagai penahan tanah, sedangkan pada bagian atas pipa ditutup dengan kertas saring Whatman No. 42. Setelah persiapan selesai, pipa tersebut kemudian dijepitkan pada tiang penyangga. Selanjutnya tanah dalam kolom dijenuhi aquades melalui bagian bawah dengan sistem kapilaritas. Kemudian tanah dan pipa yang telah dijenuhi air ditimbang kembali. Herbisida paraquat dialirkan tetes demi

tetes melalui corong yang diletakkan di atas kolom. Bagian atas kolom digenangi larutan setinggi 1 cm untuk menjaga kontinuitas aliran paraquat dalam kolom. Herbisida dengan konsentrasi masing-masing 0,54; 1,08; dan 1,62 mmol paraquat L-1 digunakan dalam penelitian ini. Filtrat di dari bawah kolom ditampung dengan erlenmeyer dan diambil setiap 2 jam. Selanjutnya konsentrasi herbisida paraquat di dalam filtrat ditentukan dengan menggunakan spektronik 21 D Milton Roy pada 258 nm. Percobaan dihentikan setelah konsentrasi paraquat yang ditampung sama dengan konsentrasi paraquat yang diberikan. Setelah penelitian selesai, tanah dan kolom ditimbang kembali. Adsorpsi herbisida paraquat dihitung menggunakan breakthrough curve dari percobaan kolom.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Mobilitas Herbisida Paraquat pada Dystrandept dan Dystrudept

Mobilitas paraquat dalam tanah didekati menggunakan breakthrough curve seperti terlihat pada Gambar 2 dan 3. Perbedaan konsentrasi herbisida paraquat memberikan perbedaan waktu lepasnya herbisida tersebut dari profil tanah (kolom tanah). Pada konsentrasi 0.54 mmol L-1 , 14 jam pertama semua paraquat masih mampu diadsorpsi secara sempurna oleh tanah Dystrandept baru kemudian sedikit demi sedikit mulai dilepaskan, dan pada 28 jam tanah ini sudah tidak mampu lagi mengadsorpsi paraquat (Gambar 2). Peningkatan konsentrasi paraquat ternyata dapat meningkatkan adsorpsi paraquat oleh koloid tanah seperti juga dilaporkan oleh Muktamar et al. (2005c) dan menunda lepasnya herbisida paraquat masing-masing selama 2 jam dan 4 jam untuk konsentrasi 1,04 dan 1,62 mmol L-1. Namun demikian peningkatan konsentrasi dapat meningkatkan paraquat yang dilepaskan.

Fenomena serupa terjadi pada tanah Dystrudept, walaupun terjadi perbedaan waktu pelepasan paraquat dari kolom tanah. Gambar 3 menunjukkan bahwa paraquat mulai dilepaskan keluar kolom tanah mulai 20 jam setelah percobaan dimulai baik pada konsentrasi 0,54 maupun 1,04 mmol L-1 dan mulai 22 jam pada konsentrasi1,62 mmol L-1 seperti halnya tanah Dytrandept. Perbedaan lain yang cukup menyolok antara kedua tanah yang digunakan adalah kemampuan tanah tersebut mengadsorpsi paraquat. Tanah Dystrudept masih tetap mengadsorpsi paraquat masing-masing selama 34, 42, dan 46 jam untuk konsentrasi 0,54, 1,04, dan 1,62 mmol L-1 , sedangkan tanah Dystrandept hanya mampu mengadsorpsi paraquat masingmasing selama 26, 38, dan 44 jam pada konsentrasi yang sama. Perbedaan ini mungkin terkait dengan kadar C-organik kedua tanah tersebut. Seperti dilaporkan oleh Muktamar et al. (2004) bahwa bahan organik meningkatkan kemampuan tanah untuk mengadsorpsi paraquat. Hasil penelitian ini agak berbeda dengan yang dilaporkan oleh Matocha dan Hossner (1999) bahwa terjadi pelepasan herbisida pyrithiobac lebih awal. Perbedaan ini disebabkan karena mereka menggunakan kolom tanah tidak

terusik dan kemungkinan terdapat pori makro pada kolom yang digunakan. Adanya pori makro akan menimbulkan prefential flow sehingga larutan herbisida melewati pori tersebut dan langsung terlepas dari kolom tanah. Secara praktis, tanah Dystrandept lebih cepat melepaskan herbisida paraquat ke luar dari profil tanah dibandingkan tanah Dystrudept. Semakin cepat herbisida tersebut lepas dari profil tanah, maka kemungkinan terjadinya pencemaran air tanah juga akan lebih cepat. Penggunaan herbisida pada tanah Dystrandept harus lebih hatihati sehingga kemungkinan pencemaran lingkungan dapat diperkecil.

Adsorpsi Herbisida Paraquat pada Tanah Dystrandept dan Dystrudept

Adsorpsi paraquat dihitung menggunakan kurve breakthrough paraquat (Tabel 1). Adsorpsi paraquat meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi paraquat dalam sistem, baik menggunakan metode kolom maupun batch (Tabel 1). Pada konsentrasi paraquat yang lebih tinggi, kation tersebut cenderung mendekati kompleks adsorpsi tanah (koloid tanah) sehingga adsorpsi akan lebih mudah terjadi, sebaliknya semakin rendah konsentrasi paraquat maka kation tersebut akan menjauhi koloid tanah dan menempati diffuse layer. Penelitian lain yang serupa juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Muktamar et al. (2003 ) melaporkan bahwa dengan menggunakan metode batch adsorpsi paraquat pada bahan mineral Ultisol dan Entisol meningkat secara linier dengan meningkatnya konsentrasi paraquat dalam sistem. Dengan menggunakan Histosol, Muktamar et al. (2004) juga menjelaskan bahwa peningkatan konsentrasi paraquat meningkatkan adsorpsinya, walaupun peningkatan yang terjadi tidak linier seperti tanah anorganik. Pada tanah Dystrudept, kedua metode pengukuran adsorpsi paraquat memberikan nilai

yang relatif sama (Tabel 1). Namun demikian, pada tanah Dystrudept terdapat perbedaan nilai adsorpsi yang cukup signifikan; metode kolom memberikan nilai yang lebih rendah daripada metode batch. Penelitian dengan menggunakan lebih banyak sampel diperlukan untuk menjelaskan fenomena ini.

KESIMPULAN

Paraquat pada konsentrasi rendah (0,54 mmol L-1) lebih cepat terlepas dari profil tanah (kolom tanah) daripada konsentrasi yang lebih tinggi (1,04 dan 1,62 mmol L-1). Namun demikian peningkatan konsentrasi dapat meningkatkan paraquat yang dilepaskan. Pada tanah Dystrandept, herbisida paraquat mulai terlepas dari kolom tanah masing masing pada 14, 18, dan 22 jam untuk konsentrsi 0,54, 1,04, dan 1,62 mmol L-1, sedangkan untuk tanah Dystrudept pada 20, 20, dan 22 jam untuk konsentrasi yang sama. Tanah Dystrudept mampu menahan paraquat lebih lama dibandingkan tanah Dystrandept sebelum herbisida tersebut dilepaskan dari kolom tanah. Tanah Dystrandept mampu mengadsorpsi herbisida paraquat lebih besar daripada tanah Dystrudept.


Tugas PTAT

PENGARUH HERBISIDA DALAM PENCEMARAN TANAH DAN AIR TANAH

NOOR ALFISYAH

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Pendahuluan

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka zat tersebut dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.

Pencemaran lingkungan terutama lingkungan pertanian disebabkan oleh penggunaan bahan-bahan kimia pertanian. Telah dapat dibuktikan secara nyata bahwa bahan-bahan kimia pertanian dalam hal ini herbisida, dapat menekan pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu). Pencemaran oleh herbisida tidak saja pada lingkungan pertanian tapi juga dapat membahayakan kehidupan manusia dan hewan dimana residu herbisida terakumulasi pada produk-produk pertanian dan pada perairan.

Peranan Herbisida Dalam Pertanian

Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan "asing" ini. Gulma dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Namun di sisi lain, senyawa kimia yang terkandung dalam Herbisida yang meresap ke dalam tanah ada yang tidak dapat terurai. Dan ini dapat membentuk senyawa baru yang bisa berbahaya mencemari tanah dan air.

Dampak Negatif Herbisida Dalam Lingkungan

Herbisida merupakan semua zat kimia yang digunakan untuk memberantas tumbuhan pengganggu. Sejak tahun 1960-an herbisida kimiawi telah digunakan hampir di seluruh dunia. Penggunaan herbisida sejauh ini memberikan dampak positif berupa pengendalian gulma dan peningkatan produksi pertanian dan perkebunan. Namun di lain pihak, penggunaan herbisida secara terus menerus selama 30 tahun terakhir ini juga berakibat negatif bagi lingkungan. Terjadinya keracunan pada organisme nontarget, polusi sumber-sumber air dan kerusakan tanah, juga keracunan akibat residu herbisida pada produk pertanian dan akan berpengaruh terhadap manusia dan makhluk lainnya dalam bentuk makanan dan minuman yang tercemar, merupakan contoh dampak negatif penggunaan herbisida kimiawi.

Penggunaan herbisida pada dasarnya untuk mengendalikan gulma yang tumbuh dipermukaan tanah, akan tetapi dalam aplikasinya dapat mengalami beberapa proses salah satunya teradsorpsi oleh partikel tanah. Hal ini menyebabkan herbisida tersebut tidak optimal dalam mengendalikan gulma, jika herbisida paraquat tersebut terakumulasi dalam tanah dalam jumlah yang besar dapat mencemari lingkungan. Adsorpsi herbisida di dalam tanah di pengaruhi oleh sifat tanah seperti jenis tanah, kandungan bahan organic, suhu, kelembaban, pH tanah serta macam kandungan mineral liat tanah. Keberadaan herbisida di dalam tanah dapat di deteksi dengan menggunakan metode Batch. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi herbisida paraquat yang diberikan, adsorpsi herbisida pada tanah Dystrudept, Dystrandept dan Psamment juga semakin meningkat dan adsorpsi herbisida paraquat cendrung meningkat seiring dengan menurunnya pH tanah. Aplikasi herbisida pada suatu tanah bila melebihi kemampuan adsorpsi maksimum dapat mencemari lingkungan.

Upaya Penanggulangan Pencemaran Herbisida

Pencemaran dari residu herbisida sangat membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan, sehingga pelu adanya pengendalian dan pembatasan dari penggunaan herbisida tersebut serta mengurangi pencemaran yang diakibatkan oleh residu herbisida. Kebijakan global pembatasan penggunaan herbisida kimiawi yang mengarah pada pemasyarakatan teknologi bersih (clean technology) yaitu pembatasan penggunaan herbisida kimiawi untuk penanganan produk-produk pertanian. Dalam hal ini berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi dampak negatif herbisida dan mencegah pencemaran lebih berlanjut lagi.

· Peraturan dan Pengarahan Kepada Para Pengguna

Peraturan dan cara-cara penggunaan herbisida dan pengarahan kepada para pengguna perlu dilakukan, karena banyak dari pada pengguna yang tidak mengetahui bahaya dan dampak negatif herbisida terutama bila digunakan pada konsentrasi yang tinggi, waktu penggunaan dan jenis herbisida yang digunakan. Kesalahan dalam pemakaian dan penggunaan herbisida akan menyebabkan pembuangan residu herbisida yang tinggi pada lingkungan pertanian sehingga akan menganggu keseimbangan lingkungan dan mungkin organisme yang akan dikendalikan menjadi resisten dan bertambah jumlah populasinya. Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida(insektisida, fumisida, herbisida, dll) diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973.

· Penelitian yang Mendukung Kepada Usaha Pelestarian Lingkungan

Dengan sernakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan, maka semakin rneningkat pula tuntutan masyarakat akan proses usaha tani yang ramah lingkungan dan produk pertanian yang lebih aman. Salah satu alternatif usaha pemberantasan gulma pertanian dan perkebunan adalah menggunakan bioherbisida. Bioherbisida adalah suatu jenis herbisida yang bahan aktifnya dapat berupa hasil metabolisme jasad renik atau jasad renik itu sendiri. Serangga yang merupakan musuh alami dari tumbuhan pengganggu dapat juga dikategorikan sebagai bioherbisida. Bioherbisida belum banyak digunakan dalam usaha pertanian maupun perkebunan, tetapi sudah banyak penelitian yang dilakukan mengenai prospek penggunaan bioherbisida.

Pengembangan teknik bioassay sebagai metode deteksi residu herbisida dalam tanah dan air menunjukkan bahwa untuk mendeteksi residu herbisida diuron melalui bioassay, tanaman indikator yang tepat adalah mentimun, baik menggunakan metode cawan petri, pot tanah, maupun cairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu teknik deteksi keberadann
herbisida dalam tanah dan air dengan cara yang sederhana, m udah, dan murah, tetapi
akurat, melalui metode bioassay menggunakan tanaman indikator. Teknik ini
diharapkan dapat digunakan untuk membantu mendeteksi tingkat residu herbisida dalam suatu lahan budidaya ataupun tingkat pencemaran herbisida dalam tanah dan air dengan cepat dan mudah. Dalam rangka mencapai tujuan di atas, pada tahun pertama target khusus yang ingin dicapai adalah membuat kurva standar yang akurat dan menentukan spesies tanaman indikator yang tepat untuk metode bioassay yang dikembangkan bagi 5 herbisida yang paling banyak dipakai di Indonesia, yaitu diuron, 2,4-D, ametrin, paraquat, dan glifosat.

DAFTAR PUSTAKA

Genowati I, dkk. 1999. Prospek Bioherbisida sebagai Alternatif Penggunaan Herbisida Kimiawi. Jurnal Tinjauan Ilmiah Riset Biologi dan Bioteknologi Pertanian
Volume 2 Nomor 2

Muktamar Z, dkk. 2005. Adsorpsi Paraquat oleh Tanah Dystrudept, Dystrandept, Dan Psamment Pada Berbagai Ph Tanah. Jurnal Akta Agrosia Vol.8 No. 2 Hlm 80-86

Sriyani N. 2007. Pengembangan Teknik Bioassay Sebagai Metode Deteksi Residu Herbisida Dalam Tanah Dan Air. LAPTUNILAPP.

Wikipedia. 2009. Herbisida (On-line). http://id.wikipedia.org/wiki/Herbisida.
diakses 19 Februari 2009.

Sabtu, 14 Maret 2009

Tugas PTAT

Tugas PTAT
Air Dalam Kehidupan
Oleh : Noor Alfisyah (H1E107054)

Air mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan penghidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sejumlah 75% permukaan bumi tertutup oleh air. Dari jumlah itu hanya sekitar 3 % air yang dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Sisanya berupa lautan dan air yang tak layak dikonsumsi oleh manusia. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi ini. Tidak akan ada kehidupan seandainya di bumi ini tidak ada air. Air yang bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya.
Sekarang ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Untuk mendapatkan air yang baik, sesuai dengan standar tertentu itu cukup sulit karena air telah banyak tercemar. Saat ini air menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak dicemari oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri kecil, industri besar, industri domestik, limbah pertanian dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Air terdapat di alam dalam berbagai bentuk dan mempunyai berbagai kualitas. Air merupakan sumber daya alam yang berada dalam siklus hidrologis, artinya selalu dapat diperbaharui (renewable). Meskipun air merupakan sumber daya alam yang berada dalam siklus, namun jumlah yang langsung dapat dimanfaatkan manusia sering sangat terbatas. Hal ini antara lain karena manusia belum memanfaatkan sumber daya air sebaik-baiknya dan bahkan sering menimbulkan hal-hal yang mengganggu kelestarian dan mencemarinya.

Pencemaran pada air permukaan baik dari limbah industri maupun dari limbah domestik. Limbah cair domestik terdiri dari air limbah yang berasal dari perumahan dan pusat perdagangan maupun perkantoran, hotel, rumah sakit, tempat-tempat umum, lalu lintas, dll. Limbah Cair Industri adalah limbah yg berasal dari industri. Sifat-sifat air limbah industri relative bervariasi tergantung dari bahan baku yg digunakan, pemakaian air dalam proses, dan bahan aditif yang digunakan selama proses produksi. Limbah Cair Pertanian berasal dari buangan air irigasi yg disalurkan kembali ke saluran drainase atau meresap ke dalam tanah. Limbah Pertambangan berasal dari buangan pemrosesan yang terjadi di area pertambangan juga sangat membahayakan bagi makhluk hidup yang di sekitarnya karena dalam proses pertambangan tersebut akan meninggalkan lubang-lubang besar yang apabila hujan akan membentuk kolam-kolam raksasa yang sangat berbahaya karena mengandung air asam tambang yang sangat membahayakan bagi kesehatan maupun kondili lingkungannya.
Limbah industri baik yang berasal dari limbah domestik maupun limbah industri kecil ataupun besar juga memberikan efek yang buruk bagi kondisi linkungan khususnya bagi perairan. Untuk industri besar di haruskan untuk memiliki instalasi pengolahan limbah cair, maupun kesehatan manusia jika tidak di tangani dengan baik. Oleh karena itu sangat diperlukan kerjasama antara semua pihak agar limbah-limbah dari hasil industri tersebut tidak menimbulkan dampak yang cukup besar bagi lingkunga maupun kesehatan manusia.

Tidak semua pengolahan limbah cair itu memerlukan biaya yang mahal dan dengan peralatan yang canggih cukup dengan pengelolaan limbah cair tersebut dengan baik dan meminimakan pembuangan limbah tersebut, selain itu pengelolaan limbah cair tersebut dapat dilakukan dari diri kita sendiri dulu yaitu dengan mengurangi pemakaian detergen, membuang sampah pada tempatnya dan menjaga lingkungan sekitarnya.